Disini Ku Temukan Arti Kemerdekaan
BUKAN TABULARASA
“Anak bukan kertas kosong yang bisa digambar sesuai keinginan orang dewasa”Anak lahir dengan kekuatan kodrat yang masih samar-samar.
(KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan)
Bagi saya murid adalah teman sekaligus amanah yang dititipkan kepada saya sebagai seorang guru, untuk di didik menjadi pribadi yang sholih dan sholiha, selamat di dunia dan di akhirat. Murid adalah seseorang yang harus saya siapkan agar setelah lulus nanti, mereka siap dengan tantangan yang di hadapi di zamannya.
Oleh karena itu, saya harus menyusun strategi agar murid-murid saya mampu menerima bekal yang sudah saya siapkan untuk mereka.
Dengan kurikulum
yang sudah di desain sedemikian rupa, saya menyusun skenario pembelajaran
agar dapat dilaksanakan dengan baik di kelas. Skenario itu saya susun sesuai
dengan ilmu dan pengalaman yang telah saya miliki. Skenario yang menurut saya
baik dan menyenangkan apabila dapat dilaksanakan di kelas.
Saya berperan sebagai sutradara sekaligus penulis naskah,
yang nantinya akan saya mainnya bersama murid di dalam kelas. Alhasil
keberhasilan akan dapat dilihat jika nilai mereka sesuai dengan targetan kurikulum
yang berlaku. Ada yang senang, ada yang remidi, ada pula yang berhasil hingga
mengikuti lomba-lomba di luar sekolah.
Akan tetapi, pembelajaran yang selama ini saya anggap sukses
dan bermakna, ternyata adalah wujud keegoisan saya sebagai seorang guru. Saya
berambisi untuk membekali murid-murid saya dengan berbagai ilmu pengetahuan
yang saya miliki. Saya puas jika anak-anak murid saya memiliki nilai diatas KKM
dan tidak mengikuti remedial. Saya bahagia jika mereka mengantongi nilai rapot
yang membanggakan jika dilihat dan dikenang sepanjang hidupnya nanti.
Saya tidak pernah menggali sebelumnya, apakah anak-anak
didik saya menyukai dengan materi yang saya ajarkan. Apakah keasyikan mereka di
kelas, tawa canda nya, hanya sebuah euphoria yang kemudian hilang setelah kelas
ditutup. Saya tidak pernah menggali lebih dalam, apakah mereka membutuhkan
rumus-rumus yang saya ajarkan di kehidupannya kelak, sampai mereka harus rela
untuk belajar hingga larut malam, agar untuk lolos dari garis batas nilai KKM. Di saat ujian, saya
melarang mereka untuk bekerja sama, menggunakan alat bantu hitung, dan
berbicara satu sama lain.
Suatu ketika titik terang mulai menyinari mind set saya. Titik
terang itu berasal dari cahaya pemikiran Ki Hajar Dewantara. Pemikiran yang
sungguh luar biasa. Pemikiran yang merubah sebuah peradaban pendidikan yang
telah berakar kuat bertahun-tahun di dunia pendidikan Indonesia.
Kurikulum merdeka, telah mengajak kita untuk menengok
kembali apa sebenarnya arti sebuah pendidikan. Belajar bagaimana sebenarnya
filosofi yang menjadi pondasi bangunan pendidikan di Indonesia di awal
pendiriannya. Pendidikan yang membawa anak-anak agar mendapatkan bahagia
setinggi-tingginya. Membebaskan mereka dari ikatan tuntutan materi yang selama
ini selalu dikemas dengan cara yang menjajah mereka.
Tidak ada yang salah dengan capaian kurikulum kita, akan tetapi Cara Berpikir (mind set) lah yang sekarang harus berubah. Mendidik bukanlah sebuah tuntutan, namun mendidik adalah sebuah tuntunan. Mendidik
dengan menggali kodrat alamnya, dengan memberikan kesempatan kepada anak, agar mampu mengembangkan
potensinya sesuai dengan kodratnya sebagai manusia ciptaan Allah yang memiliki
kelebihan dan kekurangan. Kelebihan anak kita gali dan dikembangkan untuk
menutupi kekurangannya.
Mendidik dengan cara menyesuaikan dengan kodrat zamannya.
Zaman sudah jauh berubah, tak layak lagi jika kita masih melarang anak
menggunakan kalkulator, sedangkan sekarang, berbagai usaha sudah menggunakan
alat bantu hitung yang canggih. Sudah saatnya kita tidak melarang anak-anak berkomunikasi
saat ujian, sedangkan zaman sekarang, keterampilan dalam berkominikasi sangat
dibutuhkan dalam mengembangkan sebuah usaha dan bersosialisasi dengan
masyarakat. Zamannya sudah kolaboratif, pekerjaan akan lebih ringan dan melesat
lebih cepat jika dilakukan secara kolaboratif. Apakah masih relevan, jika kita masih
melarang anak-anak bekerja sendiri di dalam kelas.
Moto "Ing Ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani", adalah 3 hal prinsip yang harus dimiliki seorang guru.
Perubahan mind set ini telah mendorong saya untuk bertobat sebagai seorang pengajar.
Memaksa saya untuk merubah pola pikiran saya dalam mendesain
sebuah pembelajaran. Pembelajaran harus di desain sesuai dengan kondrat anak,
yang suka bermain dan memiliki kecerdasar awal yang berbeda-beda. Anak bukanlah
sebuah kertas putih kosong, namun anak sebenarnya memiliki potensi, memiliki
laku yang harus kita pertajam agar menjadi perilaku yang baik dan terarah pada
kebaikan.
Skenario pembelajaran selalu dengan melakukan diagnostic awal,
dengan ini saya dapat memberikan perlakukan kepada anak sesuai dengan lakunya. Jika
diawal sudah pinter maka saya harus mengasahnya, namun jika diawal anak
memiliki laku yang kurang tajam, maka saya harus membimbingnya agar lakunya
lebih tajam.
Saya akan membebaskan siswa untuk mencari ilmu dari berbagai sumber, sesuai dengan zamann
sekarang sumber belajar dapat diperoleh di mana-mana melalui internet. Dengan
beradaptasi dengan kekayaan alam dan budaya di Sidoarjo, pembelajaran akan
mengoptimalkan social budaya, hal ini untuk menajamkan laku siswa agar tetap
mencintai budaya local dan budaya Indonesia, meskipun banyak budaya asing yang
lalu lalang di dunia gadget mereka.
Semoga dengan konsep menghamba kepada siswa, kita dapat memberikan kemerdekaan kepada siswa untuk dapat bebas belajar agar mendapatkan kebahagiaan setinggi-tingginya di dunia dan akhirat, dan mampu bertahan di dunia mereka nanti.
Sungguh berat amanah menjadi seorang guru, namun ingatlah kebahagiaan setinggi tingginya juga akan diperoleh seorang guru jika dilakukan dengan penuh ketulusan dan keihklasan.
.jpg)





Komentar
Posting Komentar