REFLEKSI BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH

Konsep dalam modul 1 ini sangat luar biasa. Mulai dari modul 1.1 yang mana diperkenalkan tentang filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantoro, yang menyadarkan saya akan apa sebenarnya peran pendidik dan memerdekakan siswa untuk belajar sesuai dengan kondrat alam dan kodrat zamannya. Disambung dengan modul 1.2 yang menjelaskan nilai dan peran guru penggerak, hal ini semakin menyadarkan saya akan perna saya dan pentingnya memberikan pengaruh kebaikan kepada lingkungan. Modul 1.3 mendukung cara dalam mewujudkan peran guru untuk mewujudkan visinya dengan tahapan BAGJA. Hal ini sangat membantu tahap demi tahap dalam mewujudkan visi yang sudah saya susun. Karena saya tau bahwa tidak mudah mewujudkan visi. Butuh waktu, kesabaran, dan dukungan dari semua pihak. Modul ini ditutup dengan materi budaya postitif yang menjadikan keseluruhan materi semakin dipahami dan kearah mana sesungguhnya para guru digiring untuk menjadi pribadi guru yang mampu untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
Dalam penutupan materi di modul 1.4 ini, saya belajar tentang budaya
positif, meliputi disiplin positif,
teori kontrol, teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol
guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas dan segitiga restitusi.
Sebenarnya materi tentang budaya positif,
terutama materi restitusi ini sudah pernah saya dapatkan secara tidak langsung
di sekolah saya. Saya mendapatkannya dari penjelasan teman sebaya yang pada
saat itu sudah pernah menerima materi tentang restitusi. Restitusi yang
sebelumnya dijelaskan teman saya itu sama dengan yang dijelaskan dalam modul
ini. Dimana, ketika kita menghadapi siswa yang sedang melakukan kesalahan, kita
tidak dianjurkan untuk serta merta langsung menguhukumnya dengan sangsi yang
ada di tata tertib yang berlaku di sekolah. Akan tetapi harus digali dahulu
latar belakang siswa melakukan kesalahan. Apakah benar murni kesengajaan
ataukah karena faktor eksternal yang menyebabkan dia akhirnya melanggar aturan.
Namun bedanya di dalam modul ini penjelasannya tidak hanya
materi tentang restitusi, akan tetapi juga menjelaskan satu paket informasi,
yaitu tentang kebutuhan dasar manusia, disiplin positif, teori kontrol, teori motivasi,
hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, dan keyakinan kelas. Semua materi
itu saling terkait antara satu dengan lainnya.
Beda ketika saya belum memahami modul 1.4 ini, kami hanya fokus dengan restitusi. Sehingga saya
mengenal restitusi ini seolah-olah seperti sebuah ketidaktegasan, ketidak
adilan dan ketidaksuksesan dalam penegakan disiplin di sekolah. Bagaimana tidak, siswa yang melakukan
kesalahan diberikan toleransi dan pemaafan. Demikian pula untuk kesalahan yang
dilakukan oleh siswa lain. Segala pemaafan dan toleransi kesalahan diberikan,
akan tetapi tidak ada keyakinan kelas yang disepakati. Sehingga saya sangsi
bahwa dengan adanya restitusi ini akan menjadikan sekolah tidak semakin baik,
namun semakin memberikan kelonggaran kepada siswa untuk terus membuat kesalahan
tanpa adanya konsekwensi dan kominten untuk menjadi lebih baik.
Namun setelah
mempelajari budaya positif secara utuh, saya baru tau bahwa apa yang saya
pahami ini masih belum utuh. Restitusi yang berjalan di sekolah selama ini
masih bagian permukaannya saja.
Salam Guru Penggerak!
Komentar
Posting Komentar